Ribuan Warga Saksikan Kirab Budaya Haul Mbah Madiyo, Lestarikan Tradisi dan Syiarkan Islam

Ribuan Warga Saksikan Kirab Budaya Haul Mbah Madiyo, Lestarikan Tradisi dan Syiarkan Islam

Kudus, Connectways – Ribuan warga tumpah ruah memadati Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, pada Kamis (24/7/2025). Mereka antusias menyaksikan gelaran. Kirab Budaya Haul Mbah Madiyo yang setiap tahunnya menjadi magnet bagi masyarakat lokal maupun luar daerah. Acara ini bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah bentuk pelestarian tradisi sekaligus syiar Islam yang kental dengan nilai-nilai budaya Jawa.

Kirab budaya ini merupakan salah satu rangkaian acara Haul Mbah Madiyo, seorang tokoh penyebar agama Islam di wilayah Prambatan Lor. Acara inti kirab adalah arak-arakan gunungan hasil bumi dan berbagai replika benda pusaka yang diarak dari Balai Desa Prambatan Lor menuju Makam Mbah Madiyo. Selain itu, berbagai atraksi seni dan budaya seperti reog, barongan, dan tari-tarian tradisional turut memeriahkan suasana. Puncak acara biasanya ditutup dengan doa bersama dan pengajian akbar.

Arak arakan warga Desa Prambatan Lor

Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari perangkat desa, tokoh agama, sesepuh desa, seniman lokal, hingga ribuan warga dari berbagai usia. Partisipasi aktif masyarakat dalam persiapan hingga pelaksanaan kirab menunjukkan kuatnya rasa kebersamaan dan kecintaan terhadap tradisi. "Kami sangat bangga bisa menjadi bagian dari acara ini. Ini adalah warisan nenek moyang yang harus terus kami lestarikan," ujar Bapak Sutopo, salah seorang panitia pelaksana.

Kirab Budaya Haul Mbah Madiyo secara rutin diadakan setiap tahunnya, dan pada tahun ini jatuh pada hari Kamis, 24 Juli 2025. Persiapan acara sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya oleh panitia dan seluruh elemen masyarakat.

Pusat kegiatan Kirab Budaya Haul Mbah Madiyo berlokasi di Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Rute kirab membentang dari Balai Desa Prambatan Lor hingga kompleks Makam Mbah Madiyo, yang menjadi situs utama acara haul.

Tujuan utama Kirab Budaya Haul Mbah Madiyo adalah untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa Mbah Madiyo sebagai penyebar agama Islam di wilayah tersebut. Selain itu, acara ini juga menjadi media untuk melestarikan seni dan budaya tradisional Jawa yang kian tergerus modernisasi. "Ini bukan hanya tradisi, tapi juga cara kami untuk mengajarkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Bagaimana Mbah Madiyo dulu berjuang menyebarkan agama dengan kearifan lokal," tutur Ibu Siti Khadijah, seorang budayawan lokal yang hadir.

Kirab dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, diawali dengan iring-iringan gunungan hasil bumi yang dihias sedemikian rupa, melambangkan kemakmuran dan rasa syukur. Di belakangnya, barisan seniman dengan beragam pakaian adat dan replika benda pusaka turut memeriahkan pawai. Sepanjang jalan, ribuan warga berjejer rapi, mengabadikan momen dengan kamera ponsel mereka.

Ibu Aminah (58), warga asli Prambatan Lor, mengaku tak pernah absen menyaksikan kirab ini. "Sejak kecil saya sudah ikut meramaikan. Rasanya bangga melihat desa kami punya acara sebesar ini. Semoga tradisi ini terus lestari," harapnya dengan senyum merekah.

Antusiasme warga tidak hanya terlihat dari jumlah penonton, tetapi juga dari partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan pendukung, seperti bazar UMKM yang menjual produk lokal dan kuliner tradisional. Kirab Budaya Haul Mbah Madiyo menjadi bukti nyata bagaimana tradisi dan agama dapat bersinergi, menciptakan sebuah perayaan yang tak hanya sakral, tetapi juga penuh kegembiraan dan kebersamaan.


Disunting oleh : Zidni Azmi Zakiyati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah Kota Semarang Buka Magang, Yuk Buruan Daftar!

Penting! Simak Cara Cek Pengumuman Penerima KIP Kuliah 2025 Jalur SNBP dan SNBT

K3Mart Gemparkan Kota Lama Semarang: Surga Belanja Baru dengan Konsep Kekinian